Minggu, 28 Juni 2020

Sekolah Kristen Harus Berbuat Apa?


Belakangan ini banyak fenomena yang membuat dunia kalang kabut, termasuk dunia pendidikan. Pandemi COVID 19 merubah tatanan kehidupan manusia di bumi ini.  Bidang kesehatan gocang dan membuat krisis merambat ke setiap bidang kehidupan.   Dampak yang tidak main - main harus dialami oleh sekolah, bahkan siswa dan orang tua.  Perubahan pola hidup secara besar-besaran turut menyumbangkan tingkat stress bagi masyarakat.  Sebelum pandemi guru dapat berinteraksi langsung dengan murid, saat ini hanya bisa dilakukan lewat layar kaca (screen).  Orang tua harus mengemban tugas menjadi guru khususnya bagi anak - anak di usia dini.  Sementara tidak semua orang tua memiliki bekal menjadi seorang guru.  Siswa harus bisa belajar mandiri, karena keterbatasan teknologi bagi sebagian masyarakat.  Guru dituntut memasak ulang rencana pembelajarannya supaya dapat menyajikan proses pembelajaran yang relevan dan kontekstual.

Semua perubahan besar - besaran ini sungguh membuat kita lelah dan kelelahan yang tidak teratasi akan membawa tekanan pada tubuh jasmani maupun rohani.  Akankah kita berdiam diri mengikuti arus yang menggoncang dunia?  Kita bingung dan berupaya mencari solusi, akhirnya berjamuran seminar, tulisan, talkshow, diskusi untuk menghadapi situasi yang luar biasa ini.  Bagaimana dengan sekolah - sekolah Kristen?  Apa yang kita lakukan untuk menghadapi situasi pelik yang nampak tidak ada titik terang.

Back to the Bible
Di saat sulit terkadang kita perlu berhenti sejenak dan kembali mengingat akan awal pijakan kita sebagai pendidik Kristen.  Apa yang membedakan kita dengan pendidik pada umumnya?  Kristen, istilah ini adalah sebuah identitas yang tidak bisa kita tinggalkan, inilah nilai luhur sekolah Kristen.  Di dalam Alkitab jelas sekali istilah Kristen diberikan oleh orang - orang karena melihat hidup murid - murid Kristus yang sepadan dengan Kristus. (Kisah Para Rasul 11:26)  Mereka hidup seperti Kristus dan memberitakan Kristus dalam hidupnya.  Pertanyaannya, bagaimana dengan sekolah Kristen?  Apakah kita telah mendidik seperti Kristus dan memberitakan Kristus dalam pendidikan kita?  Ketika kita berani mendirikan sebuah  sekolah Kristen, maka seharusnya kita berani menunjukkan identitas kekristenan dalam setiap proses pembelajaran, pengambilan keputusan, penataan administrasi dan seluruh aspek sekolah.  Termasuk saat pandemi sekarang ini, apakah kebijakan yang dilakukan sekolah, proses pembelajaran yang dikemas, pelayanan yang diberikan masih membawa identitas Kristus di dalamnya.  Meskipun kita berada di situasi luar biasa, seharusnya kita tidak melunturkan nilai - nilai Kristiani yang menjadi identitas sekolah Kristen.

Lalu langkah konkret apa yang harus dilakukan sekolah  untuk menghadapi situasi luar biasa akibat COVID 19?  Puluhan tahun atau mungkin lebih, kita menikmati proses pembelajaran klasikal, dimana guru bersama murid (20 - 40) berada dalam satu ruangan dalam waktu yang sama belajar bersama - sama.  Namun ada fakta menarik yang ditulis Musa dalam kitab Ulangan, ketika ia hendak mengakhiri masa tugasnya, ia mengingatkan bangsa Israel tentang jiwa dari pendidikan Bangsa Israel.  

 6:4 Dengarlah, hai orang Israel : TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa !  6:5 Kasihilah   TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu  dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.  6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu  dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,  6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. 

            Ulangan 6 : 4 - 9

Ternyata Alkitab sudah memberikan gambaran konkret tentang pendidikan Kristen yang menembus segala masa.  Tuhan Yesus hadir di dunia juga dalam rangka memberikan contoh konkret dari model pendidikan Kristen ini.  Berdasarkan Ulangan 6 ada 2 hal yang perlu dipikirkan sekolah Kristen yakni isi (konten) dan cara (penyampaian) dari pendidikian Kristen di tengah situasi pandemi sekalipun.  Mari kita lihat dengan seksama.

Tuhan adalah fokus (Teosentris)

Ketika dunia pendidikan berkembang dengan pesat, ada bagian yang tidak boleh hilang dan luntur dalam pendidikan Kristen.  Tuhan harus menjadi pusat dari segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan dalam sekolah Kristen. Konsep ini berlaku dalam segala masa, sebelum pandemi, saat pandemi maupun setelah pandemi.  Segala macam kompetensi yang menjadi fokus dalam kurikulum tidak boleh terlepas dari fokus utama sekolah Kristen.

Seharusnya masa pandemi menolong kita lebih mudah mengarahkan semua proses pendidikan ke fokus utama sekolah Kristen.  Saat seluruh dunia lumpuh karena kejadian yang tidak dapat dikontrol oleh manusia.  Ini adalah momentum yang tepat untuk membuka mata kita bahwa dunia tak berdaya tanpa Tuhan.  Tuhan haruslah menjadi pusat dari semua proses dalam sekolah Kristen.  Mulai dari proses penerimaan siswa baru, proses pembelajaran, proses rekrutmen guru/staf, proses pengembangan kurikulum, proses pembangunan infrastruktur bahkan proses remunerasi.  Inilah implementasi konkret dari mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan.  

Fokus yang jernih akan menolong sekolah mendesain isi/proses pendidikan yang lebih tepat sasaran.  Apalagi di tengah pandemi, dengan pemahaman yang utuh, siswa paham mengapa mereka belajar berhitung, membaca, biologi, fisika, kimia.  Mereka akan melihat setiap mata pelajaran secara utuh terintegrasi bagi kemuliaan Tuhan, bukan potongan - potongan ilmu yang nampak berdiri sendiri tanpa korelasi dengan Tuhan.

Proses ini membutuhkan latihan dan proses pengulangan yang terus akan berlangsung tanpa batas.  Baik pemimpin, guru/staf, siswa, orang tua, petugas kebersihan, petugas keamanan terkait untuk menjernihkan fokus ini (teosentris).  Namun dengan iman kita percaya bahwa Tuhan yang sama telah menolong bangsa Israel dalam perbudakan di Mesir, Tuhan yang sama yang telah mengijinkan sekolah sekolah Kristen berdiri.  Tuhan yang sama yang telah menyertai bangsa Israel melalui 10 tulah, Tuhan yang sama yang juga menyertai kita melalui pandemi ini. Tuhan yang sama yang telah membawa bangsa Israel ke tanah perjanjian, Tuhan yang sama yang akan membawa kita pada Yerusalem baru.

Pemuridan (discipleship)

Hal yang sangat menarik jika kita memperhatikan Ulangan 6 : 6 -9 di sana terdapat pengulangan kata HARUSLAH.  Seakan akan ada hal yang sangat krusial yang Musa ingin sampaikan kepada bangsa Israel sebelum ia meninggalkan mereka.  Ternyata fokus yang benar akan menjadi ide belaka jika tidak menjadi realita.  Itulah sebabnya Musa menolong bangsa Israel untuk mewujudnyatakan ide/fokus di Ulangan 6 : 4 - 5.  Penjabaran yang sangat detil dan aplikatif diberikan Musa juga untuk menolong kita saat ini.  Cara yang dijelaskan di sana masih relevan hingga saat ini, yakni pentingnya pengulangan yang dilakukan di setiap sisi kehidupan sang murid.  hal ini tidak mungkin dilakukan oleh guru sendirian.  Saat mereka duduk, dalam perjalanan, berbaring, bangun, ini adalah momen momen berharga yang sangat efektif untuk proses pemuridan.  Tanda pada tangan dan lambang di dahi dipahami sebagai teladan nyata yang dapat mereka lihat dari guru/orang  tua/keluarga tentang Tuhan.  Di tengah pandemi, saat siswa menghabiskan waktunya secara dominan di rumah. Maka keluarga merupakan guru yang akan menentukan proses pemuridan.  

Musa bahkan menyinggung pentingnya infrastruktur dari sebuah rumah. Pintu rumah dan pintu gerbang bukan hanya berfungsi sebagai jalan masuk keluar, namun di sana terdapat nilai yang terus menerus akan disampaikan berulang - ulang tanpa batas.  Inilah proses pemuridan yang dilakukan Tuhan Yesus saat Ia bersama dengan murid - muridnya selama 3 tahun. Yesus mengajar mereka dimanapun dan kapanpun. Di jalan, pantai, bait Allah, ladang bahkan dalam badai sekalipun.  Dengan peralatan yang tersedia dalam kehidupan, batu, pohon, pasir, air, uang, Ia mendidik murid -muridNya. Dan bagian yang tak dapat kita tinggalkan adalah kelompok kecil. Tuhan Yesus memang mengajar baik skala besar dan kecil.  Namun Ia menaruh perhatian yang spesial kepada kedua belas muridNya, bahkan pada ketiga murid spesialnya Yohanes, Petrus dan Yakobus.  Artinya Yesus tahu bahwa jumlah yang kecil namun berkualitas mampu membawa pengaruh yang signifikan.  Inilah saatnya kita kembali pada model pemuridan yang Musa ingatkan dan Tuhan Yesus teladankan.  

Saat pandemi kita memiliki banyak waktu bersama keluarga, inilah saatnya sekolah bersinergi dengan keluarga/orang tua, untuk mendidik anak - anak mejadikan mereka murid Kristus yang sejati.  Pemuridan adalah suatu proses memuridkan dan dimuridkan agar menjadi semakin serupa dengan Kristus.  Hal ini tidak bisa dikerjakan di dalam ruang kelas semata.  Inilah saatnya kehidupan kita menjadi ruang kelas yang sesungguhnya, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.  Alkitab memberi teladan bagi kita sekolah yang sesungguhnya.  

Memang bukanlah hal mudah bagi sekolah untuk 'mengelola' sistem pembelajaran yang bisa dikerjakan di rumah bersama dengan orang tua/keluarga.  Namun mendidik anak - anak tidak dapat dipisahkan dari orang tua/keluarga mereka, itu adalah satu kesatuan yang terkait.  Sekolah perlu melihat ini sebagai pola pemuridan baru, dimana orang tua/keluarga adalah guru bagi anak-anak didik kita di rumah. 



Mari bersama kita kembali pada jiwa dari pendidikan Kristen yang sesungguhnya.  Pastikan kita memiliki fokus yang benar sebagai sekolah Kristen. Pastikan kita meneladani contoh pemuridan yang Alkitab berikan.  Tuhan ingin dunia kembali menjadikan keluarga sebagai sekolah kehidupan.  Mari bantu mereka, bantu orang tua, bantu keluarga untuk membangun sekolah kehidupan mereka.  Pada akhirnya kita akan menyaksikan murid - murid Kristus yang bukan hanya bertahan di tengah pandemi namun murid murid Kristus yang menang atas maut sekalipun.  Mereka menang bersama Kristus mengatasi segala perkara.


Selasa, 23 April 2019

Activity based learning



Belajar itu ga semata mata duduk di belakang meja lalu menulis diatas kertas tapi proses kompleks menuju sebuah perubahan.

ruang belajar itu bukan ini juga di dalam kelas tapi tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Cara belajar pun sangat beragam, mengizinkan anak-anak untuk belajar dengan gayanya kan menolong mereka untuk mengalami proses belajar dengan mudah.

"Learning by doing"


Rabu, 23 Januari 2019

Menengok mereka yang lemah


Being thankful,
Such a grace to have a sensitivity to be thankful.
We visited the orphanage with special need Last December. It was a great experience for my students. Most of them were afraid to be closer with them. My students frigthened by their appearances. But the most important was the experience. My students learned how to be thankful.

Kamis, 01 November 2018

Life Long Learning

Apa sih "Life Long Learning"?,

Jawabannya adalah pembelajaran seumur hidup. Pada umumnya orang berpikir bahwa pembelajaran identik dengan sekolah.  Namun tidak banyak orang melihat pembelajaran adalah proses yang terjadi dalam semua bidang kehidupan seseorang.  Akibatnya, cara pandang ini membuat orang tidak suka belajar, karena sekolah kemungkinan banyak memberikan pengalaman yang kurang menyenangkan.

Pekerjaan Rumah yang bertumpuk - tumpuk, ujian yang sulit, guru yang jahat semua itu membuat banyak orang tidak suka dengan pembelajaran.  Namun kenyataannya, manusia tidak dapat terlepas dari proses pembelajaran dalam kehidupan.

Bagaimana mengubah cara pandang kita tentang pembelajaran akan memberi dampak besar bagi proses pembelajaran yang akan kita lalui.  Mari melihat pembelajaran sebagai proses kehidupan, sehingga dengan pembelajaran kita akan membuat hidup kita semakin HIDUP.

Happy L
earning


Rabu, 31 Oktober 2018